Sejarah Alkitab Indonesia

Gereja Pasundan

Bagikan ke Facebook

Dari Sejarah Alkitab Indonesia

Langsung ke: navigasi, cari
Sejarah Gereja di Indonesia
Sejarah Alkitab Daerah di Indonesia



Jelaslah kepada kita kedudukan Gereja Kristen Pasundan, jika kita ingat akan salah suatu ucapan Dr. Kraemer, yang bunyinya seperti berikut: "Jawa Barat merupakan daerah yang paling lama dijajah oleh Belanda. Tetapi penjajahan itu baik menurut sistim tua maupun menurut sistim baru, selalu berarti pengluasan dan mengukuhnya agama Islam." Latar belakang dalil itu ialah adanya dua macam kesulitan yang merintangi usaha Pekabaran Injil. Pada satu pihak ialah sikap banyak orang Eropa terhadap kekristenan an pengkristenan. "Hal itu menunjukkan suatu "kebutuhan" yang berbahaya, baik di lapangan rohani maupun di lapangan kebudayaan dan politik: tetapi terutama mengenai hal-hal rohani." Malahan Kraemer berani menyatakan, bahwa pengkristenan Jawa tidak dipedulikan oleh Gereja Prostestan. Pada pihak lain harus dikatakan, bahwa penjajahan yang berabad-abad lamanya menyebabkan agama Islam seolah-olah telah mencengkeram suku Sunda jauh lebih kuat daripada di daerah-daerah lain di pulau Jawa.

Selain daripada kejadian-kejadian di daerah-daerah lain, maka para pekabar Injil yang pertama mengalami kesukaran yang luar biasa untuk mendapat kedudukan mereka. Tidak ada pertolongan sedikitpun, baik atas inisiatif perseorangan -- seperti tampak di dalam sejarah Gereja-gereja yang lain di pulau Jawa -- maupun dari pihak masyarakat Sunda sendiri. Keadaan yang mengecewakan itu terutama kelihatan benar di daerah Priangan. Di sekitar Jakarta dan Banten berbedalah keadaannya, oleh karena di sana Pekabaran Injil yang pertama dilakukan oleh pihak partikelir. Buah-buahnya merupakan suatu keuntungan bagi Gereja Pasundan.

Para pekabar Injil yang mula-mula bekerja di Pasundan diutus oleh NZV pada tahun 1863. Mereka tinggal di Bandung, namun izin kerja tidak diberikan oleh Pemerintah. Di kota itu mereka bekerja diantara orang-orang Kristen Ambon bekas tentara dll, tetapi masyarakat Sunda tetap tertutup bagi mereka. Pada tahun 1865 Albers diizinkan untuk tinggal di Cianjur, tempat mana Klinkert, penterjemah Alkitab itu (lih. hlm. 189) telah tinggal beberapa tahun lamanya. Adakah harapan bahwa Albers akan berhasil mengumpulkan sebuah jemaat di Cianjur, yang sangat berpegang kepada tradisi priayi Sunda? Sesudah bekerja dua tahun dapatlah ia membaptiskan dua orang, dan sesudah 12 tahun (pada tahun 1875) ia melaporkan: "Terdapatlah sekarang 4 orang Kristen di Cianjur, di antaranya seorang bisu-tuli. Bagi saya pintu-pintu tertutup, tambahan pula ada sebuah sekolah yang tidak berjalan lagi". Delapan tahun kemudian jumlah tersebut meningkat menjadi 9 laki-laki, 10 perempuan dan 12 anak-anak. Baru sesudah 40 tahun, yaitu pada tahun 1916, jemaat Cianjur mempunyai lebih dari 70 jiwa.

Gambaran tersebut tak ada bedanya dengan gambaran di tempat-tempat lain. Di Sukabumi misalnya, yang sudah dikerjakan sejak tahun 1872, terkumpullah 25 jiwa setelah berlalu 10 tahun (1883). Di Bandung, yang sudah dikerjakan dengan resmi sejak tahun 1870, tercatat 25 anggota pada tahun 1877, di antaranya 13 anak perempuan. Di Bogor sesudah 14 tahun tercatat pada tahun 1883 : 6 orang Kristen 4 orang Sunda beserta 2 orang Tionghoa.

Menurut contoh di Jawa Timur dan Jawa Utara, timbullah harapan supaya dapat didirikan desa Kristen. Pada tahun 1877 di Cideres dibelilah sejumlah hektar sawah. Pada tahun 1886 dekat Cikembar didirikan sebuah desa Kristen yaitu "Pengharapan" di dalam suatu perkebunan yang telah dibeli oleh NZV. Pada tahun 1902 didirikan Palalangon untuk orang-orang Kristen di Cianjur dan pada tahun 1920 Tamiang, dekat Jatibarang. Akan tetapi tak dapat disangkal, bahwa "salahlah metode membuka tanah dengan maksud supaya memperoleh sejumlah orang untuk dijadikan Kristen. Barangkali hal itu dapat dikerjakan oleh orang Sunda sendiri, misalnya seorang priayi atau bupati, tetapi tidak oleh orang-orang asing" (Kraemer).

Dengan giat sekali NZV mencoba supaya berakar di dalam dunia Pasundan. Pada tahun 1908 dibukalah 26 sekolah yang mempunyai lebih dari 1700 murid. Pada tahun 1920 jumlah itu meningkat menjadi 33 sekolah dengan kurang lebih 2000 murid, termasuk sebuah HIS dan sebuah MULO. Maksudnya tak lain supaya kiranya terdapat juga pengaruh sampai kepada tingkatan-tingkatan yang tinggi di dalam masyarakat. Pada tahun 1938 bekerjalah 36 SR yang mempunyai 3866 murid, selain daripada itu 14 buah HIS, sebuah HIS dan sebuah MULO dengan jumlah 3428 murid. Sebuah sekolah guru dibuka untuk mendidik guru-guru yang diperlukan.

Usaha pengasihan mendapat pula perhatian sepenuhnya. Rumah sakit "Immanuel" yang besar di Bandung (1910) diikuti dengan pendirian sejumlah poliklinik-poliklinik, klinik-klinik bersalin dll.

Akan tetapi kejadian-kejadian yang paling penting untuk perkembangan Gereja itu ialah masuknya sejumlah orang-orang Tionghoa ke dalam jemaat-jemaat Sunda yang kecil itu. Dengan tidak disangka-sangka orang-orang Tionghoa tertarik kepada Injil, sehingga jemaat-jemaat Pasundan sebenarnya merupakan jemaat-jemaat "campuran" Sunda-Tionghoa. Kejadian itu dimulai Cirebon pada tahun 1863, dan berlaku di dalam hampir semua jemaat Sunda, sehingga pada tahun 1936 rata-rata jumlah anggota-anggota Tionghoa di dalam jemaat-jemaat campuran itu adalah lebih dari satu pertiga. Tetapi mulai tahun 1930 berangsur-angsur kedua pihak berpisah satu dari yang lain dengan mendirikan jemaat-jemaat Pasundan di samping jemaat-jemaat Tionghoa. Seluk beluk sejarahnya akan dibentangkan dalam fasal yang khusus mengenai sejarah Gereja-Gereja Tionghoa.

Kejadian yang paling berarti untuk Gereja Pasundan ialah masuknya jemaat-jemaat di sekitar Jakarta ke dalam wilayahnya. Di situ sudah terkumpul beberapa jemaat dan golongan Kristen berkat kegiatan Mr. Anthing. Jemaat-jemaat Anthing masuk ke dalam lingkungan Gereja Pasundan pada tahun 1885 setelah Mr. Anthing meninggal dunia pada tahun 1883. Dengan diperolehnya jemaat-jemaat tersebut maka Gereja Pasundan meluas sampai ke daerah hilir Jawa Barat.

Adapun riwayat Anthing serta sejarah "jemaat-jemaat Anthing" adalah sebagai berikut.

Mr. Anthing yang lahir pada tahun 1820, dapat dianggap sebagai seorang yang terkemuka di lapangan Pekabaran Injil di Indonesia pada abad ke-19. Ia memegang jabatan yang paling tinggi di pengadilan Semarang, kemudian di Jakarta (1865). Inisiatif dan pengorbanannya di lapangan Pekabaran Injil adalah demikian rupa, sehingga selayaknya namanya itu tidak dilupakan didalam sejarah Gereja di Jawa. Ketika di Semarang ia sudah menyadari bahwa masyarakat Jawa sering tertutup bagi para penginjil Eropa, sedangkan para penginjil Jawa dengan lancar bisa memperoleh hubungan dengan orang-orang sesukunya. Ia sendiri mempunyai perhubungan dengan sejumlah orang-orang Jawa yang sedang mencari kebenaran, di antaranya Tunggul Wulung, Sadrakh dll. Di Jakarta kemudian ia menggunakan wang serta tenaganya untuk mendidik para penginjil Jawa serta mengutus mereka. Terutama setelah ia dipensiun pada tahun 1870 ia menyurahkan segala tenaga dan waktunya untuk tujuan tersebut.

Di rumahnya di Kramat, Jakarta, ia mengasuh murid-murid yang dididiknya menjadi penginjil. Tidak kurang dari 50 penginjil yang sudah dididik serta diutus olehnya dan seluruhnya itu berlangsung atas biayanya sendiri. Ia meminta kepada mereka supaya janganlah mereka bekerja sebagai alat-alat Belanda, tetapi sebagai penginjil-penginjil Jawa asli.

Pada permulaannya ia mendapat banyak pertolongan dari "Perhimpunan Pekabaran Injil di dalam dan di luar Gereja," yang di dalamnya ia sendiri adalah seorang yang terkemuka. Kemudian ia mencoba untuk memperoleh pertolongan dari perhimpunan-perhimpunan Pekabaran Injil di Belanda. Akan tetapi usahanya itu gagal, sehingga ia kecewa dan tertarik kepada bidat "Kerasulan" yang baru muncul ketika itu di Eropa. Ia sendiri menjadi anggota bidat itu, serta diangkat menjadi "rasul" di Jawa. Sesudah bercuti ke Eropa, kembalilah ia ke Jakarta pada tahun 1880, akan tetapi disebabkan kecelakaan trem ia meninggal dunia pada tahun 1883.

Berangsur-angsur terbentuklah di sekitar Jakarta 9 tempat kebaktian serta evangelisasi, tempat mana jemaat-jemaat Anthing itu berhimpun. Di antaranya 3 tempat dekat Tangerang, 2 buah di Jatinegara, 2 lagi di Bogor, satu di Banten dan satu di Krawang. Terkecuali sebuah rumahtangga dari suku Badui maka semuanya itu berasal dari Islam, di antaranya juga sejumlah orang-orang santri. Jumlah orang Sunda yang masuk Kristen serta yang dibaptiskannya, adalah kurang lebih 750 orang.

Sesudah ia meninggal dunia maka NZV mencoba untuk melakukan pemeliharaan yang sewajarnya terhadap jemaat-jemaat yang telah ditinggalkan sedirian itu. Akan tetapi kesulitan untuk mengambil alih mereka itu hampir sama dengan apa yang dialami oleh NGZV dalam soal gerakan Sadrakh di Jawa Tengah. Telah dikatakan di atas tadi, bahwa Anthing akhirnya masuk bidat "Kerasulan". Malahan, ia telah mengangkat seorang Sunda dari Gunung Putri (dekat Bogor) menjadi "rasul". Oleh karenanya rasul itu beserta dengan penganut-penganutnya tidak setuju untuk bekerjasama dengan NZV. Tetapi pada akhirnya kebanyakan dari para penganutnya masuk lingkungan Gereja yang dikerjakan oleh NZG. Tidak saja mereka memperbesar jumlah anggota-anggota Gereja Pasundan, tetapi mereka membawa juga tenaga-tenaga ke dalam Gereja itu, yaitu beberapa penginjil. Kita catat jemaat-jemaat yang terutama, yakni: Kampung Sawah, Cikuya, Gunung Putri, Cilegam (dekat Krawang) dan Rangkasbitung di daerah Banten.

Selain daripada itu jemaat "Rehoboth" di Jatinegara termasuk Gereja Pasundan. Jemaat itu didirikan oleh pendeta King (lih. hlm. 204) pada tahun 1863. Anggota-anggotanya berasal dari pelbagai golongan. Ada di antaranya yang tadinya menjadi pengikut Anthing, ada juga yang terhisab kepada "Perhimpunan untuk Pekabaran Injil di dalam dan di luar Gereja" (lih. hlm. 204) dan ada pula yang berasal dari "Jemaat Melayu" yang dahulunya berada di dalam lingkungan Gereja Inggris. Justru jemaat campuran itu menjadi pusat dari Gereja Pasundan di Jakarta.

Atas anjuran Kraemer, yang telah menyelidiki keadaan Gereja Pasundan itu pada tahun 1931, maka pada tanggal 14 Nopember 1934 dilantiklah Synode Gereja Kristen Pasundan. Pimpinan Gereja terletak di tangan Rad Agung (synode), meskipun klasis-klasis belum dibentuk. Pada waktu itu tercatat 20 jemaat yang berdiri sendiri, di samping itu terdapat 15 jemaat yang belum mempunyai majelis sendiri. Pada tahun 1936 didaftarkanlah 6215 orang (diantaranya 1460 orang Tionghoa), dan anggota-anggota tetap beryumlah 3300 orang. Pendidikan pendeta yang khusus tidak ada. Tetapi ada diadakan kursus-kursus penginjil. Para penginjil itu kemudian menerima hak pendeta. Pendeta Titus adalah pendeta yang pertama ditahbiskan pada tahun 1918.

Tak dapat disangkal bahwa keadaan Gereja Pasundan di Jawa Barat masih sulit adanya. Memang jemaat-jemaat yang sudah ada dapat bertahan terhadap segala cobaan pada masa perang dunia kedua dan sesudahnya, malahan kadang-kadang bertambahlah jumlah anggotanya. Tetapi tidak dapat dicatat suatu perkembangan besar di sana-sini.


Catatan: dialihaksarakan ke ejaan baru oleh SABDA
Bibliografi
Artikel ini diambil dari:
Kruger, Dr. Th. Muller. 1966. Sejarah Gereja di Indonesia. Badan Penerbitan Kristen-Djakarta.
kembali ke atas