Sejarah Alkitab Indonesia

Gereja Kristen Sulawesi Tengah

Bagikan ke Facebook

Dari Sejarah Alkitab Indonesia

Langsung ke: navigasi, cari
Sejarah Gereja di Indonesia
Sejarah Alkitab Daerah di Indonesia



Daerah Gereja Kristen Sulawesi Tengah terutama meliputi beberapa suku di daerah Sulawesi Tengah. Pekabaran Injil NZG telah memulai usahanya di situ dua tahun sebelum pemerintah memasuki daerah tersebut. Sejarah Gereja Sulawesi Tengah amat erat hubungannya dengan dua tokoh pekabaran Injil yang sepatutnya harus disebut di sini, yaitu Dr. Alb. C. Kruyt dan Dr. N. Adriani, masing-masing diutus oleh NZG dan Lembaga Alkitab Belanda.

Sebenarnya bukanlah maksud NZG untuk memberitakan Injil ke teluk Tomini, dimana Poso terletak, melainkan untuk mengusahakan pekabaran Injil ke daerah Gorontalo. Di situ sudah terdapat suatu jemaat kecil terdiri dari orang-orang Minahasa, dan Pekabaran Injil pusat mengharapkan supaya pekabaran Injil dapat dilakukan dengan berdasar pada jemaat itu. Menurut rencana tersebut Kruytlah yang akan memulai pekerjaannya di Gorontalo pada tahun 1891. Tetapi segera ternyata bahwa tidak ada harapan apapun untuk memperkembangkan pekabaran Injil di daerah itu. Hampir segenap Gorontalo sudah diislamkan, sehingga pengkristenan terhadap daerah itu sungguh memerlukan banyak waktu dan tenaga. Oleh karena itu Kruyt berpikir, bahwa hasil yang lebih baik bisa diperoleh di suatu daerah yang belum diislamkan. Bukankan daerah-daerah yang masih kafir tak boleh tidak akan diislamkan juga, bilamana agama Kristen tidak selekasnya dibawa ke situ? Lagi pula ternyata bahwa jemaat orang-orang Kristen Minahasa di Gorontalo tidak sanggup memberi sumbangan kepada usaha Pekabaran Injil di sekitarnya itu. Sebabnya ialah karena mereka tidak mempunyai pergaulan dengan orang-orang suku Gorontalo, dan tidak perlu mengenal bahasa suku itu.

Akibatnya ialah bahwa pada tahun 1893, Kruyt pindah ke Poso. Untuk dapat mengerti metodenya dalam usaha pekabaran Injil baiklah kita ketahui bahwa ia lahir dan menjadi besar di Jawa Timur dimana ayahnya bekerja sebagai pekabar Injil di Mojokarno. Dengan demikian ia sudah dapat meraba-raba bagaimana Injil itu seharusnya dikabarkan di suatu daerah yang belum dikerjakan sama sekali. Ia berpendapat, bahwa Injil tidak dimengerti serta berakar di dalam suatu suku, jika itu tidak diberitakan dalam bahasanya serta dalam cara dan bentuk yang tidak asing bagi orang-orang itu. Oleh karena itu syaratnya yang utama ialah menyelidik bahasa, adat istiadat serta kebudayaan suku Toraja itu. Untuk mengerti luasnya pikiran itu, maka kita kutip suatu ucapan dari Adriani yang memang sependapat dengan Kruyt. Ia menceritakan tentang pekabaran Injil yang dilakukan dalam bahasa "Melayu" di antara salah satu suku kafir, dan melanjutkan ceritanya sebagai berikut: "...... orang-orang itu tak boleh tidak menganggap pekabaran Injil sebagai suatu usaha untuk mendekatkan mereka dengan pemerintah Belanda. Memang, pada mulanya bahasa Melayu itu dianggap oleh orang-orang pedalaman sebagai bahasa pemerintah Belanda ...... Dapat dikatakan bahwa guru-guru Ambon biasanya sangat giat untuk menyebarkan agama Kristen, akan tetapi mereka menyebarkannya itu secara Islam, artinya dengan memujikannya itu sebagai suatu agama yang mempertinggi derajat serta kehormatan para penganutnya. Dengan cara ini kita memupuk suatu kekristenan nama saja, sedangkan di samping itu agama yang lama masih berlaku terus."Memang, kejadian seperti itu harus dicegah sejak mulanya. Janganlah sampai diterima oleh orang-orang sebagai "agama Belanda", pula jangan sebagai jalan menuju kepada kemajuan saja. Injil itu sedapat-dapatnya harus berakar di dalam suku-suku itu, sehingga bukan beberapa orang saja secara pribadi masuk Kristen, melainkan hendaknya segenap suku dapat dikristenkan. Pengkristenan terhadap segenap suku dan bangsa, dengan tegas menjadi tujuan segala usaha Pekabaran Injil daripada Kruyt dan Adriani. Mereka mengetahui benar-benar keadaan masyarakat dalam suku-suku itu. Sifat mereka ialah kolektif dan bukan individuil. Seseorang yang secara pribadi mengambil keputusan untuk masuk Kristen tiada mempunyai tempat lagi di dalam pergaulan keluarga serta suku. Keputusan untuk masuk Kristen sebaiknya harus diambil oleh seluruh keluarga, supaya keadaan yang lama dapat dirobah sampai ke akar-akarnya, dan diganti dengan keadaan yang baru dalam kekristenan.

Bersama-sama dengan Adriani maka Kruyt menunggu 17 tahun lamanya justru untuk melakukan penyelidikan bahasa serta adat istiadat secara mendalam sekali sebelum orang-orang yang pertama dapat dibaptiskan. Terlebih dahulu sudah ada beberapa orang yang minta dibaptiskan. Tetapi Kruyt menolak permintaan untuk dibaptiskan. Tak lain untuk mencegah supaya mereka jangan dikucilkan dari masyarakatnya. Ia baru bersedia melayani pembaptisan jika ada beberapa orang yang berkuasa mau menjadi Kristen. Dengan demikian para anggota keluarga serta sukunya akan dapat juga dikristenkan. Papa i Wunte seorang kepala kampung dekat Poso, merupakan orang pertama yang mengambil keputusan untuk masuk Kristen. Sebelum itu bertahun-tahun lamanya ia menjadi teman karib Kruyt. Ternyata bahwa sesudah golongan yang pertama dibaptiskan, maka pengkristenan terhadap daerah itu berjalan dengan amat lancarnya. Pada hari Natal 1909 dibaptiskanlah pula seyumlah 180 orang. Suku-suku yang mendiami daerah-daerah sampai danau Poso (Tentena) dengan lekas dikristenkan. Kemudian juga suku-suku Napu, Besoa dan Bada, yang hingga saat itu ditakuti oleh suku-suku yang lain, karena mereka tadinya adalah suku-suku yang mengayau dan menyamun. Sejak tahun 1912 usaha pekabaran Injil dilancarkan pula ke daerah-daerah sebelah timur ialah suku Mori, tempat mana sudah didirikan beberapa sekolah pemerintah atas usaha seorang pendeta pembantu Gereja Protestan di Luwuk. Akhirnya suku Towana yang pada waktu itu masih sangat terkebelakang, masuk Kristen juga. Pada tahun 1938 berakarlah sudah Gereja dalam segala suku di daerah itu.

Para pekerja untuk pengkristenan itu dipanggil dari Gereja Minahasa pada saat-saat permulaan. Dari situ datanglah sejumlah guru sekolah dan penginjil. Tetapi sejak tahun 1913 dibukalah suatu kursus guru di Pendolo. Kemudian Tentena menjadi tempat pendidikan yang utama. Pada tahun 1929 Y. Kruyt, anak dari perintis pekabaran Injil di daerah itu, membuka sebuah sekolah guru di situ. Pendidikan guru-guru sangat diperlukan mengingat banyaknya sekolah-sekolah rakyat yang didirikan diseluruh daerah itu. Kursus penginjil dan pendeta baru dimulai pada tahun 1940 di Tentena ketika perang dunia kedua pecah, sehingga jumlah pendeta di Gereja itu belumlah mencukupi.

Sejak perang dunia kedua usaha pekabaran Injil oleh Gereja Protestan di wilayah Luwuk-Banggai diserahkan juga kepada NZG. Di wilayah itu sejak 1912 puluhan ribu orang kafir "masuk kristen", dan kemudian dibaptiskan secara massa, tetapi belum banyak yang menjadi sidi, berhubung dengan kekurangan tenaga untuk melaksanakan pengajaran agama-agama yang dibutuhkan.

Bentuk Gereja itu baru selesai pada tahun 1947; hal ini memang telah diperlambat oleh perang dunia kedua. Tetapi pada tahun tersebut resort-resort yang dikerjakan oleh para pekabar Injil NZG dirobah menjadi klasis-klasis. Majelis-majelis jemaat tiap klasis merupakan Rapat Klasis dan Rapat-rapat Klasis itu memilih Synode yang berdiri sendiri. Nama Gereja itu menjadi Gereja Kristen Sulawesi Tengah (GKST).

Sekarang ada 14 klasis. Pekerjaan klasis-klasis itu diurus oleh suatu badan Pekerja Klasis, di bawah pimpinan Ketua Klasis, yaitu seorang pendeta yang diangkat oleh Synode. Pendeta itu juga yang melayani tanda-tanda esrar (sakramen) di jemaat-jemaat yang biasanya dipimpin oleh seorang guru jemaat atau penatua. Pekerjaan Synode diurus oleh Badan Pekerja Synode, yang berpusat di Tentena.

Tujuh klasis wilayah Luwuk-Banggai, yang disebut di atas, juga terhisab dalam GKST, tetapi akibat letaknya yang jauh, perhubungan-perhubungan yang sangat kurang baik dengan Tentena serta keadaan yang agak berlainan, maka 7 klasis itu masih merupakan suatu "Synode Wilayah" tersendiri di dalam lingkungan GKST seluruhnya.

Makin lama makin nyata bahwa Gereja itu berdiri sendiri. Pekabar-pekabar Injil dari luar negeri tidak lagi dipekerjakan. Kesulitannya ialah letaknya yang sangat terpencil, sehingga baik hubungannya dengan Gereja-gereja di sebelah utara, ialah GMIM terutama, tidak dapat dilaksanakan secara efektif, maupun perhubungan dengan Gereja Toraja di Rantepao dan Mamasa tidak mudah untuk mempereratkan mereka.


Catatan: dialihaksarakan ke ejaan baru oleh SABDA
Bibliografi
Artikel ini diambil dari:
Kruger, Dr. Th. Muller. 1966. Sejarah Gereja di Indonesia. Badan Penerbitan Kristen-Djakarta.
kembali ke atas