Sejarah Alkitab Indonesia

Persaingan Imam Paska-Samaria

Bagikan ke Facebook

Dari Sejarah Alkitab Indonesia

Langsung ke: navigasi, cari
Taurat, Persaingan Dua Komunitas Imam

Latar belakang tradisi Priestly ("P")

Manuskrip E yang "melecehkan" Harunik. Menyusul kejatuhan Israel di tangan bangsa Asiria, tahun 722 SM, wilayah Judea dan Jerusalem khususnya menjadi salah satu tempat pengungsian warga Kerajaan Efraim (Israel, Utara). Kedatangan para migran itu mengusik kenikmatan kalangan tertentu di Jerusalem. Bukan karena berarti harus disediakan lebih banyak gandum untuk membuat lebih banyak roti bagi lebih banyak mulut. Tahun-tahun keagungan dan kekuasaan imam Jerusalem (Kerajaan Judea, Selatan) terancam oleh manuskrip yang dibawa para migran, yairu teks tradisi "E". Para imam itu adalah pemimpin agama yang memiliki akses istimewa ke Baitallah. Berasal dari komunitas Haruni, keturunan Harun, kakak Musa. Ancaman itu menjadi lebih nyata karena ternyata para migran dari Efraim itu dapat menyatu dengan warga Jehuda, karena kesamaan dalam agama, kepercayaan pada Tuhan yang sama, pewaris kisah tradisi yang sama dalam hal para bapa bangsa, pembebasan dari Mesir, dan pencerahan di Sinai. Sehingga dihasilkan kombinasi naskah tradisi J dan E, menjadi naskah "JE". Kombinasi itu mungkin terjadi karena alasan kompromi literatur, atau rekonsiliasi politik. Tapi pada saat yang sama, naskah "E" ternyata hanya sedikit sekali berkisah tentang Harun. Barangkali kenyataan itu masih bisa dianggap pil pahit yang masih tertelan. Tapi tidak demikian halnya pada pengisahan kasus Harun yang beralasan untuk menghindar dari kesalahan dan menyebut Musa sebagai "tuanku". Leluhur komunitas Harunik ini dikisahkan secara "memalukan" dalam dua dalam insiden manuskrip E, yaitu dalam kisah Miryam "si putri salju" (Bil 12) dan kisah Harun membuat patung anak lembu emas sebagai sesembahan orang Israel. (Kel 32).

Taurat versi Priestly

Bagian yang sangat menyakitkan ini tidak mungkin dihilangkan dari teks. Para pendengar pembacaan naskah E dari Israel, yang telah terbiasa dengannya, pasti akan segera mengetahui penghilangannya dan memprotesnya. Peran besar Musa sudah diketahui luas sebagai orang yang membebaskan bangsa Israel dari Mesir, mengelana di gurun Sinai, memberikan hukum dan memimpin mereka menuju Kanaan. Satu-satunya hal yang bisa dilakukan oleh komunitas Harun adalah menampilkan sosok Musa agar tidak terlalu penting, dan lebih menonjolkan Harus sebagai penyeimbang. Tetapi, membiarkan bagian tersebut tetap dalam naskah juga terasa sangat menyakitkan. Karena itu, para imam Haruni menuliskan "taurat" versi mereka sendiri. Lalu dimulailah tradisi penulisan naskah "P". Sesuai motto "penyerangan adalah pertahanan yang bagus", komunitas Haruni mencoba mempertahankan Harun dari "serangan" naskah E, dengan membuat naskah yang "menyerang" Musa, yang mendenigrasikan Musa. Model seperti ini dapat dilihat dengan membandingkan dua kisah "Air dari Batu" di Kitab Keluaran [Kel 17:2-7 dari tradisi E] dan Kitab Bilangan [Bil 20:2-13 dari tradisi P]. Penulis teks P bukan sekedar merubah detil cerita, ia juga memberikan konsep lain tentang Tuhan. Penulis teks P tidak sekedar bermotif artisitik, tetapi juga sekaligus teologis, politis, dan ekonomis. Manuskrip P dibuat untuk mempertahankan komunitas imam penulisnya dari ancaman komunitas imam lain dari pusat religi lain. "Taurat" versi P harus bisa mempertahankan legitimasi komunitas Haruni dan mempertahankan wewenang yang dimiliki. Pada akhirnya, "Taurat" P, adalah upaya komunitas Haruni mempertahankan kelangsungan nafkah penghidupannya.

Sebagian teks P ditulis dalam periode 722-609SM, dalam dan atau setelah masa Raja Hiskia. Tradisi P menekankan pemusatan kegiatan religi, satu pusat, satu altar, satu Tabernakel, satu tempat untuk persembahan korban. Dan Raja yang memulai pemusatan religi adalah Raja Hiskia. Kitab-kitab Raja-raja dan Tawarikh mengkonfirmasi bahwa tidak ada pemusatan religi sebelum Raja Hiskia. Tradisi P (dan hanya P) selalu menekankan pembedaan kaum Lewi menjadi dua kelompok: "imam Lewi" dan "Lewi kebanyakan". Raja yang memformalkan pembagian itu adalah Raja Hiskia, seperti dilaporkan dalam Kitab Tawarikh [2Taw 31:2]. Dan imam Haruni keturunan Harun adalah satu-satunya kelompok Lewi yang berhak menjadi Imam. Tradisi P ditulis oleh komunitas Haruni, dan mempahlawankan Raja Salomo dan Raja Hiskia, yang memberinya banyak peluang mengoperasionalkan konsep yang menguntungkan komunitasnya.

Pada mulanya manuskrip P merupakan sebuah karya utuh "Taurat" yang dimulai dari Kisah Penciptaan (Pasal Kitab 1 Kejadian) hingga kisah kematian Musa. Teks tersebut sekarang tersebar di banyak bagian kumpulan kitab Taurat. Yaitu di bagian-bagian Kitab Kejadian, Keluaran, Bilangan, hampir seluruh isi Kitab Imamat (kecuali Ima 23:39-43; 26:39-45 yang merupakan tambahan dari Redaktur), dan bagian terakhir Kitab Ulangan (Ul 34:7-9) yang mengisahkan kematian Musa (doublet teks D, Ul 34:1-8; 10-12). Selain itu, manuskrip tradisi P tersebar dalam bentuk beberapa kitab, misalnya Kitab Tawarikh dan Ezra.

Latar belakang tradisi Deuteronomis ("D")

Teks Deuteronomis menunjukkan sentimen yang berhubungan erat dengan para imam Shiloh, sumber tradisi E. Keduanya kurang menghargai Harun, dan bersikap negatif terhadap Raja Salomo dan Raja Jerobeam. (Kedua raja ini menyingkirkan imam Shiloh dari panggung keagamaan).

  1. Penulis teks D bersikap sama seperti imam Shiloh, yaitu kurang menghargai imam Haruni. Dalam Kitab Ulangan (Deuteronomy) nama dan peran Harun hanya disebut dua kali di bagian pembukaan.
    1. Pertama, ketika menyebutkan bahwa Tuhan begitu murka kepada Harun dan ingin membinasakannya dalam insiden "patung anak-lembu emas" (Ul 9:20).
    2. Kedua, ketika menceritakan bahwa Harun meninggal (Ul 10:6). Di bagian penutup, sejarawan D bahkan memberikan penekanan negatif pada kisah Miryam yang terkena kusta hingga menjadi putih seperti salju (kisah pemberontakan Miryam dan Harun, Bil 12).
  2. Deuteronomis dan Raja Josia yang dipahlawankannya berada di satu kubu dengan imam Shiloh yang berpandangan buruk terhadap Raja Salomo dan Raja Jerobeam. Kedua raja tersebut melakukan hal yang sama, menyingkirkan puak Shiloh dari panggung kekuasaan keagamaan.
  3. Tradisi D dan E juga berciri sama dalam penggunaan istilah
    1. E dan D menyebut gunung tujuan Musa dan orang Israel di masa pengelanaan di gurun sebagai Gunung Horeb (J dan P menyebutnya Gunung Sinai).
    2. Menggunakan ungkapan "Tempat Yahweh".
    3. Menggambarkan Musa dengan baik dan atau sangat baik.
    4. Menganggap penting kedudukan para nabi, karena bertradisi mempahlawankan tokoh semacam Musa, Samuel, Ahiya dan lebih kemudian Jeremia (istilah "nabi" hanya muncul sekali di P dan tidak pernah muncul di J)
    5. Mendukung dan sangat menghargai peranan kaum Lewi (Di tradisi J, kaum Lewi diabaikan setelah pembantaian Sikhem; di P kaum Lewi dipisahkan, dan dianggap lebih rendah dari komunitas Haruni, imam keturunan Harun)

Pada mulanya manuskrip D adalah sebuah karya utuh yang dimulai dari "pidato" perpisahan Musa dan kisah kematiannya dalam Kitab Ulangan, dan berpuncak pada kematian Raja Josia. Lalu dilanjutkan dengan kitab-kitab yang terkumpul dalam Nebiim. Hingga sekarang, setelah penyuntingan di masa Ezra, kumpulan manuskrip D masih dapat dikenali dengan mudah dan dinikmati sebagai kesatuan yang mengalir dimulai dari Kitab Ulangan dan diikuti dengan pembagian seperti berikut: a. kisah kedatangan dan penaklukan "tanah perjanjian", terkumpul di Kitab Josua; b. kisah awal para pendatang, termasuk cerita tentang Debora, Gideon, dan Samson, terkumpul dalam Kitab Hakim-Hakim; c. kisah Samuel di Shiloh dan penahbisan Saul dan Daud, dua raja pertama bangsa Israel, terkumpul dalam Kitab 1Samuel; dan kisah Raja Daud yang terkumpul di Kitab 2Samuel; lalu d. kisah raja-raja setelah Daud hingga Raja Josia, yang menjadi raja Judea ketika manuskrip D disunting, terkumpul dalam Kitab Raja-Raja. Selain itu, manuskrip tradisi D lainnya tersebar di beberapa kitab, seperti Jeremia dan Jesaya.

Bersambung ke MT5 - Priestly Versus Elohis

Bandung, Maret 2002
Heri Muliono


Bibliografi
Artikel ini diambil dari:
Milis i-kan-untuk-CyberGki, 27 Maret 2002. Oleh Heri Muliono http://www.gki.or.id
kembali ke atas